Jumat, Juni 19, 2009

PENINGKATAN KECERDASAN INTERPERSONAL

Menurut Chaplin (2000:257) kecerdasan interpersonal dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berlangsung antar dua pribadi, mencirikan proses-proses yang timbul sebagai suatu hasil dari interaksi individu dengan individu lainnya. Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganisir, menangani perselisihan antarteman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan sebagainya.
Menurut Gardner dalam Firman (2005:1) Orang yang mempunyai kecerdasan interpersonal akan memiliki suatu kemampuan untuk memahami perasaan, motivasi, tabiat dan hasrat dari orang lain. Mereka yang mempunyai kecerdasan interpersonal mampu bekerja sama dalam organisasi serta berkomunikasi secara secara lisan ataupun nonlisan sama baiknya dengan orang lain. Pada tahap yang mudah, kecerdasan ini termasuk kemampuan seorang anak-anak mengenal dan sensitive pada mood dari orang dewasa di sekitarnya.
Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang rendah dapat memunculkan konflik interpersonal. Hal ini ditegaskan oleh Sullivan (Chaplin, 2000:257) bahwa penyakit mental dan perkembangan kepribadian terutama sekali lebih banyak ditentukan oleh interaksi interpersonalnya daripada oleh faktor-faktor konstitusionalnya.
Bhurmester (1988:992) mengemukakan 5 aspek kompetensi interpersonal yaitu a) kemampuan untuk berinisiatif dalam memulai suatu hubungan interpersonal b) kemampuan untuk membuka diri (self disclosure) c) kemampuan untuk bersikap asertif d) kemampuan untuk memberikan dukungan emosional (emotional support) kepada individu lain dan e) kemampuan mengelola dan mengatasi konflik. Berikut penjelasan dari kelima aspek tersebut :
A. Kemampuan untuk Berinisiatif
Bee dalam Danardono (1997:10) mengatakan bahwa inisiatif adalah kemampuan untuk memulai suatu bentuk kegiatan tertentu. Sedangkan menurut Buhrmester (1988:993) inisiatif dalam konteks sosial adalah usaha untuk memulai suatu bentuk interaksi dan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan sosial yang lebih besar. Masih menurut Buhrmester (1988:994) bentuk perilaku yang mencerminkan adanya kemampuan berinisiatif adalah :
(1) Meminta atau mengusulkan pada kenalan baru untuk melakukan aktivitas bersama, misalnya belajar bersama atau pergi bersama
(2) Menawarkan sesuatu pada kenalan baru yang terlihat menarik dan atraktif
(3) Melanjutkan percakapan dengan kenalan baru
(4) Menjadi individu yang menarik dan menyenangkan ketika berkenalan dengan orang lain
(5) Mengenalkan diri pada orang yang ingin kita kenal
Jadi kemampuan berinisiatif yaitu kemampuan untuk memulai suatu
Bentuk interaksi dan hubungan dengan orang lain dengan cara meminta atau mengusulkan pada kenalan baru untuk melakukan aktivitas bersama, menawarkan sesuatu pada kenalan baru yang terlihat menarik dan atraktif, dan menjadi individu yang menarik dan menyenangkan ketika berkenalan dengan orang lain.
B. Kemampuan untuk Bersikap Terbuka (Self Disclosure)
Buhrmester (1988:994) mengungkapkan contoh bentuk tingkah laku yang menggambarkan adanya kemampuan untuk bersikap terbuka adalah :
(1) Mengemukakan hal-hal yang bersifat pribadi ketika berbincang-bincang dengan orang yang baru kita kenal
(2) Mengatakan pada sahabat kita hal-hal yang membuat kita merasa malu
(3) Mempercayai seorang kenalan baru dan membiarkannya mengetahui bagian diri kita yang paling sensitif
(4) Memberikan kesempatan pada teman baru untuk mengenal diri kita yang sebenarnya
(5) Melepaskan pertahanan diri kita untuk mempercayai seorang sahabat
(6) Mengungkapkan secara terbuka kepada sahabat bahwa kita menghargai dan menyayanginya




Jadi kemampuan untuk bersikap terbuka yaitu kemampuan untuk terbuka kepada orang lain, menyampaikan informasi yang bersifat pribadi mengenai dirinya sendiri dan memberikan perhatian kepada orang lain sebagai bentuk penghargaan yang akan memperluas kesempatan terjadinya sharing
C. Kemampuan untuk Bersikap Asertif
Danardono (1997:14) menjelaskan kemampuan bersikap asertif adalah kemampuan untuk mempertahankan hak-hak pribadi secara tegas, mengemukakan gagasan, perasaan dan keyakinan secara lugas, jujur, jelas dan dengan cara yang sesuai. Sedangkan menurut Perlman dan Cosby dalam Danardono (1997:14) asertivitas adalah kemampuan dan kesediaan seseorang untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya secara jelas dan mempertahankan hak-haknya secara tegas. Jadi kemampuan bersikap asertif yaitu kemampuan untuk mempertahankan hak-hak pribadi secara lugas, jujur, jelas dan dengan cara yang sesuai.
D. Kemampuan untuk Memberikan Dukungan Emosional
Menurut Shepard & Voss dalam Danardono (1997:14) kemampuan untuk memberikan dukungan secara emosional merupakan kemampuan untuk memberikan afeksi. Afeksi merupakan suatu bentuk emosi. Salah satu bentuk ekspresi afektif adalah empati.
Hoffman dalam Mu’tadin (2002) mengungkapkan bahwa empati merupakan kemampuan untuk memahami orang lain dan berusaha menolong orang lain. Dapat disimpulkan bahwa wujud dari dukungan emosional adalah dengan empati yaitu suatu sikap untuk memahami orang lain dan berusaha menolong orang lain. Jadi kemampuan untuk memberikan dukungan emosional yaitu kemampuan untuk memberikan empati dan kemampuan untuk menenangkan serta memberikan rasa nyaman bagi orang lain.
E. Kemampuan dalam Mengatasi Konflik Interpersonal
Konflik senantiasa muncul dalam kehidupan manusia karena berbagai sebab. Oleh sebab itu dperlukan kemampuan untuk mengatasi konflik. Menurut Grasha dalam Danardono (1997:15) kemampuan mengatasi konflik meliputi sikap-sikap untuk menyusun suatu penyelesaian masalah, mempertimbangkan kembali penilaian atas suatu masalah dan mengembangkan konsep harga diri yang baru.Menurut Buhrmester (1988:995) kemampuan mengatasi konflik yang muncul dalam hubungan interpersonal adalah suatu upaya agar konflik yang muncul tidak semakin memanas. Jadi kemampuan dalam mengatasi konflik individu yaitu upaya agar konflik yang muncul tidak semakin memanas.


DAFTAR PUSTAKA

Chaplin, J.P. (2000). Kamus Lengkap Psikologi (terjemahan.Kartono, K) Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada.Firman (2005:1)

Buhrmester, D. (1988). Fife Domains of Interpersonal Competence in Peer Relationship. Journal Of Personality and Social Psychology vol.55, No.6 hlm 991-1008.

Danardono,W. (1997). Kompetensi Kecerdasan Intepersonal Mahasiswa Ditinjau Dari Status Keiukutsertaan Pada Kegiatan Pecinta Alam.Skripsi (tidak diterbitkan) Fakultas Psikologi UGM :Yogyakarta.

Mu’tadin, Z.(2002). .Mengembangkan Keterampilan sosial. [Online].Tersedia :http//www.psikologiums.net/modules.Akses Juni 2008.


Oleh : Neli Astuti

Tidak ada komentar: