Jumat, Juni 19, 2009

MEMILIH SEKOLAH LANJUTAN

Tidak dapat dipungkiri tentang adanya ungkapan bahwa masa depan suatu bangsa terletak di tangan para generasi mudanya. Artinya, kemajuan atau kemunduran suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas calon-calon penerus bangsa. Calon penerus bangsa terdiri dari para anak muda/remaja, dan anak-anak kecil yang akan diasah untuk memperjuangkan bangsa ini. Manakala generasi mudanya berkualitas rendah baik fisik atau psikis, bisa dipastikan bangsa tersebut akan mengalami kekacauan.
Dalam konteks mempersiapkan generasi penerus, tidak lain ditujukan pada bidang pendidikan (baca; sekolah). Menurut para orang tua sekolah adalah tempat dimana mendidik peserta didik menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang cerdas dan kreatif. Saat ini marak sekali para anak dan orang tua memilih sekolah. Baik lulusan TK yang akan melanjutkan ke sekolah dasar (SD), dari SD akan melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan SLTP ke Sekolah Menengah Umum (SMU) serta siswa SMU yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi (PT). Oleh karena itu Anda harus memikirkan panjang lebar dalam memilih sekolah yang berkualitas tinggi, baik negeri maupun swasta. Anda harus mengetahui kelebihan serta kekurangan dari sekolah-sekolah tersebut. Sekolah yang berkualitas tinggi tidak harus mahal. Karena sekolah yang mahal belum tentu terjamin kualitasnya.
Berikut ini terdapat 10 hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan para orangtua dan peserta didik untuk mengambil keputusan dalam memilih sekolah lanjutan:
1. Anda harus mengetahui dan memahami visi dari sekolah tersebut
Anda jangan percaya begitu saja pada brosur atau iklan yang menampilkan program-program pembelajaran yang ditonjolkan. Pendidikan yang berkualitas sangat tergantung pada visi yang diembannya sebagai gambaran atau tujuan yang ingin dicapai melalui seluruh proses pembelajaran. Anda dapat meminta keterangan sejelas-jelasnya tentang visi sekolah yang bersangkutan.
2. Cermatilah landasan konseptualnya
Setelah Anda memahami visinya, selanjutnya Anda harus melihat apakah proses pembelajarannya dilandasi konsep filosofis dan pedagogis yang jelas. Sekian banyak program yang baik-baik tanpa dilandasi konsep yang memberikan kerangka rasional dan ilmiah tak akan banyak berarti pada tujuan yang akan dicapai. Pendidikan sekolah tidak sekadar sekeranjang kursus yang dikemas sebagai parsel yang menarik. Setiap detil dalam sekolah harus memiliki tujuan yang sama, bahkan setiap benda yang ditaruh dan ditempel di ruang kelas harus bisa dipertanggungjawabkan apa tujuannya secara edukatif.
3. Program pembelajaran
Setelah Anda melihat visi dan konsepnya, selanjutnya Anda cermati program-program yang ditawarkan. Apakah seluruh program bisa ditarik benang merahnya ke konsep dan visi? Sekolah yang baik akan menyusun program pembelajaran berdasarkan visi dan dilandasi konsep, bukan tambal-sulam atau asal comot sana-sini.
4. Metode pendekatan
Program yang bagus belum tentu berhasil dengan efektif tanpa ditunjang dengan metode dan pendekatan yang tepat. Anda dapat menanyakan pula metode-metode apa dan pendekatannya dalam proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Semakin bervariasi metode yang digunakan semakin besar kemungkinan untuk terjadinya inovasi-inovasi yang mendorong terciptakan belajar-mengajar yang kreatif dan efektif.
5. Fasilitas penunjang
Untuk menunjang keberhasilan program pembelajaran, dibutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang yang tepat. Misalnya, sekolah yang mencanangkan program pembelajaran komputer, maka harus dilengkapi peralatan yang memadai. Media belajar dan buku-buku sangat mendukung tercapainya tujuan.
6. Kualitas SDM [Sumber Daya Manusia]
Ujung tombak pendidikan adalah para gurunya, maka kecakapan dan profesionalitas guru sangat menentukan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Ada sekolah yang sengaja ”memajang” gelar/titel para gurunya untuk menunjukkan SDM yang dimilikinya. Namun, Anda jangan terkecoh, gelar dan titel sekarang ini bukan jaminan. Di samping orang bisa "membeli" gelar, kualitas Perguruan Tinggi pencetak gelar pun tidak semuanya bermutu. Cara terbaik adalah Anda melihat langsung bagaimana mereka mengajar, misalnya pada kesempatan open house. Anda juga dapat mencari informasi kepada orangtua yang sudah menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.


7. Organisasi manajemen
Sekolah yang baik harus dikelola dengan baik pula. Sistem organisasi dan manajemennya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Setiap sekolah memiliki caranya sendiri dalam mengelola organisasi agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Lembaga pendidikan khususnya swasta harus dikelola sebagai organisasi modern yang profesional, bukan asal jalan. Status sekolah juga perlu dipertanyakan, termasuk perizinan karena menyangkut kelangsungan pendidikan. Yayasan atau perusahaan yang memayungi sekolah juga harus jelas, apakah independen atau berafiliasi dengan yayasan induknya, apakah franchise, apakah di bawah maupun lembaga keagamaan atau organisasi kemasyarakatan. Semuanya harus jelas sebelum Anda menjatuhkan pilihan.
8. Nyaman dan aman
Anda harus melihat kondisi fisik sekolah, termasuk ruang kelas dan fasilitasnya. Apakah akan memberikan suasana yang nyaman dan aman Anda selama belajar. Semua harus diperhitungkan baik dan buruknya.
9. Lokasi terjangkau
Lokasi sekolah juga perlu dipertimbangkan, mengingat biaya dan jenis transportasi yang nanti akan dipakai. Jangan sampai Anda membuang energi di jalan lantaran masalah jarak atau kemacetan.
10. Anggaran biaya
Mahal atau murah untuk pendidikan sangat relatif, khususnya untuk sekolah swasta biasanya biayanya lebih tinggi dibanding negeri. Hal ini disebabkan swasta harus membiayai seluruh pengelolaan semata-mata dari uang sekolah yang ditarik dari orangtua. Berbeda dari negeri yang ditanggung pemerintah, atau swasta yang didanai pihak donor. Yang terpenting adalah Anda memilih sekolah terbaik sesuai dengan biaya yang sudah Anda anggarkan, dan perlu juga untuk mempertimbangkan biaya kelanjutannya. Memilih sekolah semata-mata dari "murah"-nya juga kurang bijaksana, karena bila kualitasnya rendah berarti Anda juga membayar mahal untuk sesuatu yang tak berguna. Memiliki sekolah mahal karena merasa bergengsi juga kurang tepat karena Anda tidak tahu apa yang terbaik untuk Anda. Rupanya peringatan "teliti sebelum membeli" juga berlaku untuk memilih sekolah terbaik bagi Anda.

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/5/18/kel1.html
Oleh : Hendrik Hartanto

TEAMWORK

Dalam dunia usaha, penggunaan teamwork seringkali merupakan solusi terbaik untuk mencapai suatu kesuksesan. Teamwork yang solid akan memudahkan manajemen dalam mendelegasikan tugas-tugas organisasi. Namun demikian untuk membentuk sebuah team yang solid dibutuhkan komitment tinggi dari manajemen. Hal terpenting adalah bahwa teamwork harus dilihat sebagai suatu sumber daya yang harus dikembangkan dan dibina sama seperti sumber daya lain yang ada dalam perusahaan. Proses pembentukan, pemeliharaan dan pembinaan teamwork harus dilakukan atas dasar kesadaran penuh dari team tersebut sehingga segala sesuatu berjalan secara normal sebagai suatu aktivitas sebuah teamwork, meskipun pada kondisi tertentu manajemen dapat melakukan intervensi.
A. Definisi Teamwork
Secara umum teamwork dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Kumpulan individu-individu tersebut memiliki aturan dan mekanisme kerja yang jelas serta saling tergantung antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu sekumpulan orang yang bekerja dalam satu ruangan, bahkan didalam satu proyek, belum tentu merupakan sebuah teamwork. Terlebih lagi jika kelompok tersebut dikelola secara otoriter, timbul faksi-faksi di dalamnya, dan minimnya interaksi antar anggota kelompok. Ketika seseorang bekerja didalam kelompok (team), akan ada dua isu yang muncul. Pertama adalah adanya tugas-tugas (task) dan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Hal ini seringkali merupakan topik utama yang menjadi perhatian team. Kedua adalah proses yang terjadi di dalam teamwork itu sendiri, misalnya bagaimana mekanisme kerja atau aturan main sebuah team sebagai suatu unit kerja dari perusahaan, proses interaksi di dalam team, dan lain-lain. Dengan kata lain proses menunjuk pada semangat kerjasama, koordinasi, prosedur yang harus dilakukan dan disepakati seluruh anggota, dan hal-hal lain yang berguna untuk menjaga keharmonisan hubungan antar individu dalam kelompok itu. Tanpa memperhatikan proses maka sebuah teamwork tidak akan memiliki nilai apa-apa bagi perusahaan dan hanya akan menjadi sumber masalah bagi perusahaan dalam pembentukan sebuah teamwork. Sebaliknya jika proses tersebut ada dalam sekumpulan orang yang bekerjasama, maka performance mereka akan meningkat karena akan mendapat dukungan secara teknis maupun moral.
B. Mengapa Teamwork Diperlukan?
Teamwork merupakan sarana yang sangat baik dalam menggabungkan berbagai talenta dan dapat memberikan solusi inovatif suatu pendekatan yang mapan. selain itu ketrampilan dan pengetahuan yang beranekaragam yang dimiliki oleh anggota kelompok juga merupakan nilai tambah yang membuat teamwork lebih menguntungkan jika dibandingkan seorang individu yang brilian sekalipun.
Sebuah team dapat dilihat sebagai suatu unit yang mengatur dirinya sendiri. Rentangan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki anggota dan self monitoring" yang ditunjukkan oleh masing-masing team memungkinkannya untuk diberikan suatu tugas dan tanggungjawab. Bahkan ketika suatu masalah tersebut dapat diputuskan oleh satu orang saja, melibatkan teamwork akan memberikan beberapa keuntungan. Keuntungan tersebut adalah: pertama keputusan yang dibuat secara bersama-sama akan meningkatkan motivasi team dalam pelaksanaanya. Kedua, keputusan bersama akan lebih mudah dipahami oleh team dibandingkan jika hanya mengandalkan keputusan dari satu orang saja.
Bila dilihat dari perspektif individu, dengan masuknya ia kedalam suatu kelompok (team) maka hal tersebut akan menambah semangat juang/motivasi untuk mencapai suatu prestasi yang mungkin tidak akan pernah dapat dicapai seorang diri oleh individu tersebut. Hal ini dapat terjadi karena team mendorong setiap anggotanya untuk memiliki wewenang dan tanggungjawab sehingga meningkatkan harga diri setiap orang.

C. Siklus Hidup Sebuah Teamwork
Secara umum perkembangan suatu team dapat dibagi dalam 4 tahap:
 Forming, adalah tahapan dimana para anggota setuju untuk bergabung dalam suatu team. Karena kelompok baru dibentuk maka setiap orang membawa nilai-nilai, pendapat dan cara kerja sendiri-sendiri. Konflik sangat jarang terjadi, setiap orang masih sungkan, malu-malu, bahkan seringkali ada anggota yang merasa gugup. Kelompok cenderung belum dapat memilih pemimpin (kecuali team yang sudah dipilih ketua kelompoknya terlebih dahulu).
 Storming, adalah tahapan dimana kekacauan mulai timbul di dalam team. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu-ragu untuk mengganti pemimpin yang dinilai tidak mampu. Faksi-faksi mulai terbentuk, terjadi pertentangan karena masalah-masalah pribadi, semua ngotot dengan pendapat masing-masing. Komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena masing-masing orang tidak mau lagi menjadi pendengar dan sebagian lagi tidak mau berbicara secara terbuka.
 Norming, adalah tahapan dimana individu-individu dan sub-group yang ada dalam team mulai merasakan keuntungan bekerja bersama dan berjuang untuk menghindari team tersebut dari kehancuran (bubar). Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota team. Selain itu semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja dan aturan-aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.
 Performing. Tahapan ini merupakan titik kulminasi dimana team sudah berhasil membangun system yang memungkinkannya untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini keberhasilan team akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.

D. Ketrampilan yang Diperlukan
Ada dua ketrampilan utama yang seharusnya dimiliki oleh anggota sebuah teamwork, yaitu:
 Ketrampilan managerial (Managerial Skills), termasuk kemampuan dalam membuat rencana kerja, menentukan tujuan, memantau kinerja memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar, dan lain-lain.
 Ketrampilan interpersonal (Interpersonal Skills), termasuk kemampuan berkomunikasi, saling menghargai pendapat orang lain dan kemampuan menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain.
Oleh : Fresstyana Ristuningsih

KIAT MENENTUKAN TUJUAN DALAM HIDUP

1. Benarkan Ini Tujuan Anda?
Banyak orang yang sebenarnya punya impian yang dibentuk oleh orang lain. Jadi penting untuk menemukan apa benar apa yang ingin Anda capai adalah tujuan Anda atau tujuan orang lain. Saat merancang tujuan, jika ternyata impian dan tujuan itu bukan yang Anda inginkan, coret saja dari daftar.
2. Temukan Bagaimana Tujuan Ini Akan Mempengaruhi Kehidupan Anda
Setelah Anda membuat daftar yang benar tentang impian Anda, lihat kembali apa yang tertinggal. Masukkan impian yang tertinggal ini ke dalam daftar dan pikirkan bagaimana ini akan membawa pengaruh dalam hidup Anda. Apakah mencapai tujuan ini akan membuat Anda lebih bahagia daripada sekarang? Akankah memperbaiki rasa aman dan hubungan Anda dengan orang lain? Apa akan berpengaruh pada keuangan Anda secara positif? Jika ternyata impian ini tak membawa pengaruh positif dalam kehidupan Anda, mungkin seharusnya dikesampingkan. Jika Anda menemukan pencapaian Anda akan membawa pengaruh positif dalam kehidupan Anda, sebaiknya memiliki motivasi untuk mengejar dan mencapai semua tujuan ini.
3. Kategorikan Impian Anda
Sekarang persempit lagi daftar untuk menemukan tujuan sejati, bukan hanya keinginan atau angan-angan Anda. Pada titik ini Anda perlu mengkategorikan tujuan ke dalam berbagai golongan, tergantung dari seberapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mencapainya. Anda akan memiliki tujuan jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mencapainya, tujuan jangka pendek yang butuh waktu sebulan atau lebih untuk meraihnya, dan tujuan yang bisa tercapai sewaktu-waktu dari jangka waktu sebulan hingga setahun. Tapi ingat, Anda harus punya tujuan besar, dan pastikan memiliki tujuan dalam setiap kategori sehingga bisa secara terus-menerus berupaya meraih tujuan itu dalam kehidupan Anda.

4. Rencanakan Bagaimana Cara Meraihnya
Setelah Anda membangun tujuan Anda, kini Anda perlu membuat rencana bagaimana akan mencapainya. Anda harus selalu berusaha mewujudkan tujuan Anda, bahkan jika itu hanya butuh sebuah langkah kecil untuk mencapainya. Pastikan tidak berlebihan dalam mengupayakan mewujudkannya. Sesekali dibutuhkan manajemen dan motivasi sebagai bagian rencana Anda dan untuk melengkapi tugas ini, tapi itu pasti akan jadi usaha yang berharga. Buat grafik pencapaian untuk membantu Anda mencapai tujuan, dan saat Anda sudah mencapainya beri tanda dalam grafik tersebut.

Kelihatannya begitu mudah untuk melaksanakan semua tips di atas, tapi yang terpenting dari segalanya hanya tindakan yang akan membawa hasil buat kita.

Oleh : Dwi Mulyana Restu M

MENGEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT REMAJA

Belajar ataupun bekerja pada bidang-bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan memberikan semangat lebih dalam mempelajari atau menjalankannya. Sayangnya seringkali remaja memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya, atau memilih bidang yang sedang popular, tanpa sempat mencerna lebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari ”menjadi apa” setelah selesai sekolah. Lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang bisa digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.
Mengembangkan minat dan bakat bertujuan agar seseorang dikemudian hari bisa belajar dan bekerja di bidang yang diminatinya sesuai dengan minat serta bakat yang dimiliki, sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.
A. Pengertian Bakat
Dalam aktivitas sehari-hari istilah bakat seringkali diinterpretasi secara berbeda-beda, seperti misalnya untuk menggambarkan kemampuan intelektual yang tinggi, minat yang menonjol, potensi, kemampuan yang diperoleh karena diturunkan dari orang tua, dan lain sebagainya. Menurut Given (2007) bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya kemampuan berbahasa, bermain musik, melukis, dan lain-lain. Seseorang yang berbakat musik misalnya, dengan latihan yang sama dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai keterampilan tersebut. Untuk bisa terealisasi bakat harus ditunjang dengan minat, latihan, pengetahuan, pengalaman agar bakat tersebut dapat teraktualisasi dengan baik.



Sehubungan dengan cara berfungsinya, ada 2 jenis bakat :
1. Kemampuan pada bidang khusus (talent) misalnya bakat musik, melukis, dll
2. Bakat khusus yang dibutuhkan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan khusus misalnya bakat melihat ruang (dimensi) dibutuhkan untuk merealisasi kemampuan di bidang teknik arsitek.
Bakat bukanlah merupakan trait atau sifat tunggal, melainkan merupakan sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk bakat. Misalnya dalam bakat musik terdapat kemampuan membedakan nada, kepekaan akan keserasian suara, kepekaan akan irama dan nada. Bakat baru muncul atau teraktualisasi bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan, ada kemungkin terjadi seseorang yang tidak mengetahui dan tidak mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang laten.
B. Minat
John Holland (Azwar, 2004), ahli yang banyak meneliti mengenai minat memberi pengertian minat sebagai aktivitas atau tugas-tugas yang membangkitkan perasaan ingin tahu, perhatian, dan memberi kesenangan atau kenikmatan. Minat dapat menjadi indikator dari kekuatan seseorang di area tertentu dimana ia akan termotivasi untuk mempelajarinya dan menunjukkan kinerja yang tinggi. Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat untuk hal tersebut atau hal yang berkaitan dengan bidang yang akan ditekuni. Tanpa minat untuk hitung menghitung, seseorang tidak akan berkembang menjadi seorang ahli matematika.
C. Tes bakat
Tes bakat bertujuan membantu memberikan gambaran mengenai kemampuan seseorang di berbagai area minatnya di bidang-bidang tertentu, untuk kemudian merencanakan dan membuat keputusan mengenai pilihan pendidikan atau pekerjaan (Azwar, 2004). Melalui tes bakat bisa diperoleh gambaran mengenai berbagai bidang kemampuan dan minat seseorang. Hasil tes bakat tidak dapat menentukan dengan mutlak pekerjaan atau karir apa yang harus dijalani, juga tidak untuk menjawab pertanyaan yang sangat khusus, misalnya ”Apakah saya dapat menjadi seorang sekretaris?”. Tes bakat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti misalnya :
1. Apakah saya cocok untuk memilih bidang kedokteran?
2. Manakah bidang yang lebih baik bagi saya, bidang keteknikan atau kedokteran?
3. Apakah kelebihan dan kekurangan saya, apabila saya ingin menjadi seorang akuntan?
Setiap orang mempunyai minat dan bakat tertentu, masing-masing dalam bidang dan derajat yang berbeda-beda. Guru, orang tua, pembimbing perlu mengenal bakat anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan dan menyediakan pengalaman sesuai dengan tingkat kebutuhan.
D. Mengembangkan Minat dan Bakat Remaja
Santrock (2003) mengungkapkan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari anak ke dewasa. Pada periode ini anak mencapai kematangan fisik dan diharapkan pula disertai dengan kematangan emosi serta perkembangan sosialnya. Masa ini berlangsung dari usia sekitar 12/ 13 tahun sampai 18-20 tahun yaitu usia sekolah menengah. Karena masa peralihan maka remaja pada umumnya masih ragu-ragu akan perannya dan menimbulkan krisis identitas. Remaja sedang mencari ”siapakah saya, apa peran saya?” Dalam usaha menemukan jati diri yakni mengetahui mengenai kebutuhan-kebutuhan pribadi serta tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya, maka pengembangan minat dan bakat remaja menjadi isue yang penting. Dalam mengembangkan kompetensinya remaja tetap membutuhkan bimbingan baik dari orang tua dan lingkungan rumah maupun sekolah.
Menurut Goleman (2005) setiap anak memiliki kelebihan dan talenta yang sebagian sudah bisa tampak atau ditenggarai pada usia dini. Namun tidak jarang pula masih ada kemampuan dan bakat lain yang baru muncul di usia remaja atau bahkan pada periode perkembangan lebih lanjut. Usia remaja merupakan periode perkembangan dengan keinginan tahu yang tinggi, khususnya untuk berbagai area yang berkaitan dengan kehidupan remaja. Hal-hal apa dan dengan siapa remaja bergaul, aktivitas yang ada dalam lingkup kesibukannya sehari-hari bisa menjadi awal untuk menelusuri dan mengembangkan berbagai minat yang mungkin pada usia lebih muda belum nampak atau belum menjadi fokus perhatiannya. Rasa ingin tahu remaja seringkali diikuti dengan kebutuhan untuk mencoba atau melakukannya. Oleh karenanya dengan bimbingan yang terarah, masa remaja bisa menjadi masa yang menguntungkan untuk anak mengembangkan bakat dan kemampuan tertentu.
Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dan guru untuk mengembangkan minat dan bakat adalah (e-psikologi, 2008) :
1. Sejak usia dini cermati berbagai kelebihan, keterampilan dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak.
2. Bantu anak meyakini dan fokus pada kelebihan dirinya.
3. Kembangkan konsep diri positif pada anak.
4. Perkaya anak dengan berbagai wawasan, pengetahuan serta pengalaman di berbagai bidang.
5. Usahakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untuk belajar dan menekuni bidang keunggulannya serta bidang-bidang lain yang berkaitan.
6. Tingkatkan motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih kemampuannya.
7. Stimulasi anak untuk meluaskan kemampuannya dari satu bakat ke bakat yang lain.
8. Berikan penghargaan dan pujian untuk setiap usaha yang dilakukan anak.
9. Sediakan dan fasilitasi sarana bagi pengembangan bakat.
10. Dukung anak untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam mengembangkan bakatnya.
11. Jalin hubungan baik serta akrab antara orang tua / guru dengan anak dan remaja.




E. Hal-hal yang Perlu Dicermati dalam Mengembangkan Minat dan Bakat Remaja
1. Mengikuti minat teman
Usia remaja adalah masa perkembangan yang ditandai dengan solidaritas tinggi terhadap teman-teman sebayanya. Remaja yang kurang memahami siapa dirinya, memiliki kebutuhan yang besar untuk berada dan diakui dalam kelompoknya. Hal ini seringkali membuat remaja mengikuti minat temannya, memilih bidang yang sebenarnya kurang sesuai dengan bakat serta minat pribadinya. Untuk memilih bidang-bidang yang akan dikembangkannya, remaja perlu berdiskusi, mencari masukan dan bertukar pikiran dengan orang tuanya.
2. Penelusuran minat & bakat secara dangkal
Memperhatikan kelebihan dan minat anak membutuhkan usaha yang serius dan berkesinambungan. Penelusuran dan penjajakan yang dangkal dapat menyesatkan, misalnya :
”Saya merasa bakat saya di bidang musik karena saya suka sekali mendengar musik”.
”Saya suka traveling dan kelihatannya menyenangkan menjadi pemandu wisata, bisa jalan-jalan makanya saya akan memilih sekolah pariwisata”.
”Saya senang masak, lulus SMA saya akan memilih Perhotelan”.
Alasan-alasan untuk memilih studi lanjutan sebagaimana contoh di atas tidak cukup kuat, dan membutuhkan penelusuran yang lebih jauh, baik untuk bidang studi yang akan dipilih maupun dari kemampuan, minat serta kepribadian remaja.
Dengan mengembangkan minat dan bakat serta memberikan bimbingan karir sejak dini, remaja akan semakin menyadari mengenai ”apa yang ia suka dan mampu lakukan”, serta akan menjadi lebih jelas pendidikan maupun pekerjaan yang nantinya akan ditekuni. Semua itu disertai dengan pemahaman tentang kekuatan dan kelemahannya, sehingga remaja bisa menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan diri untuk menggapai impiannya.
DAFTAR PUSTAKA

Given, Barbara K. 2002. Brain-Based Teaching. Alexandria : Association for Supervision and Curiculum Development.

Azwar, Saifudin. 2004. Pengantar Psikologi Intelegensi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Santrock, Jhon W. 2003. Adolescense Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.

Goleman, Daniel. 2005. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta : Gramedia


Oleh : Dinar Budi Utami

TIPS MEMULAI BISNIS DARI HOBI

Hobi adalah cara tepat untuk memulai bisnis. Mengapa? Karena menggabungkan antara kesenangan, minat dan bakat. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa terbebani saat bekerja atau membangun bisnis. Seolah-olah Anda melakukannya sambil bermain. Bukan itu saja, jika itu adalah hobi, maka pasti Anda sudah tahu seluk-beluknya bahkan sampai detil. Misalnya saja Anda hobi merawat tanaman. Pasti Anda tahu di mana mendapatkan bibit yang baik, tempat membeli pupuk, media dan bahan penunjang lainnya dengan harga murah dan cara perawatan dan budidaya tanaman. Mungkin juga Anda sudah bergabung dengan komunitas hobis yang sama. Ini mempermudah Anda memperoleh informasi dan relasi.
Lalu, bagaimana untuk memulai bisnis dari hobi ini? Sebenarnya hampir sama dengan memulai suatu bisnis baru. Bedanya, Anda sudah punya basis pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang memadai. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan adalah:
1. Tekuni Hobi Anda
‘Practice makes perfect’ . Jika selama ini Anda melakukan hobi karena untuk mengisi waktu luang atau iseng, mulai kini Anda harus tekun berlatih. Jangan lupa praktik langsung dari semua teori yang sudah Anda pelajari. Dengan terus berlatih, kemampuan Anda akan meningkat dan Anda mampu menghasilkan produk terbaik. Ini tentu akan menaikkan nilai jualnya.
2. Tambah pengetahuan Anda
Tidak cukup jika mengandalkan pengalaman. Anda perlu menambah pengetahuan melalui kursus, seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan hobi. Lewat aktivitas semacam itu, Anda akan memperoleh pengetahuan serta sertifikat yang bisa menaikkan personal branding dan prestise. Ini akan menumbuhkan kepercayaan pelanggan. Tak ada salahnya membaca buku, majalah, internet atau media lain untuk meningkatkan pengetahuan Anda. Dengan mengikuti milis (mailling list) sesuai hobi, Anda bahkan bisa memperoleh tambahan wawasan. Bisa jadi malah ketemu ahlinya langsung. Tentunya ini sangat bermanfaat.

3. Belajar dari Ahlinya
Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tidak perlu pengalaman itu Anda alami sendiri. Anda bisa menimba pengalaman dari pelaku bisnis yang telah sukses. Misalnya belajar dari pengusaha tanaman hias yang telah sukses. Atau belajar dari dosen peneliti yang mumpuni. Belajar langsung dengan para pakar dan orang yang sukses menjalankan hobi sesuai yang Anda tekuni, akan meningkatkan kemampuan Anda. Ini adalah cara terbaik untuk menghasilkan sebuah produk yang bagus dan kompetitif baik dari segi kualitas maupun harga. Bahkan Anda bisa mengukur kemampuan dan hasil karya Anda.
4. Pasarkan produk Anda
Jika produk Anda sudah siap, segera pasarkan. Untuk tahap awal, bisa ditawarkan ke komunitas yang Anda ikuti. Atau ke lingkungan terdekat seperti tetangga dan saudara. Keuntungannya, Anda bisa meminta masukan tentang produk Anda, dan memperbaikinya sebelum disebarluaskan. Jika respon mereka bagus, Anda bisa mencoba menawarkan ke toko-toko. Hanya saja, beberapa jenis toko hanya mau menerima barang dari suplier tertentu. Atau kalau tidak, mereka memberikan syarat tertentu, semisal jumlah minimal item barang, kontinuitas pasokan, potongan harga, dll.. Jika produk Anda unik dan tidak pasaran, lebih baik melakukan pemasaran online. Selain murah, Anda bisa menjangkau konsumen yang tepat.
5. Jangan lupa: Promosi!
Pemasaran yang baik perlu ditunjang dengan promosi yang baik pula. Jangan malas untuk mempromosikan produk Anda. Promosi bisa dilakukan dengan banyak cara. Jika ingin gratis, bisa lewat situs iklan gratisan. Atau beriklan di milis-milis. Jika ingin promosi secara personal, bisa dengan membagikan sampel kepada calon pembeli kita. Memberi bonus pada jumlah pembelian tertentu juga bagus untuk promosi. Umumnya bila pelanggan puas, mereka akan bercerita kepada orang lain. Yang perlu dicatat pula, sebelum benar-benar terjun ke bisnis, Anda tetap perlu melakukan riset pasar dan membuat business plan meskipun secara sederhana. Ini untuk menghindari terbuangnya tenaga, waktu dan biaya. Selain itu, Anda jadi tahu dari beberapa hobi yang Anda punya, hobi mana yang bisa dijadikan usaha.
Oleh : Cahyani Triyastuti

PENGEMBANGAN BERFIKIR KREATIF

A. Pengertian Berfikir Kreatif
Menurut Coleman dan Hamman, berfikir kreatif adalah berfikir yang menghasilkan metode baru, konsep baru, pengertian baru, perencanaan baru, dan seni rupa.
Rowlinston menjelaskan, bahwa berfikir kreatif dinamakan berfikir difergen / lateral yaitu menghubungkan ide atau hal-hal yang sebelumnya tidak berhubungan.
Orang berfikir kreatif karena adanya keinginan yang kuat pada pribadinya untuk menghasilkan suatu kemajuan, akibat dari adanya dorongan untuk berprestasi yang tinggi serta adanya kesadaran akan pentingnya sesuatu yang baru tersebut.
B. Ciri Berfikir Kreatif
Menurut Denny dan Davis:
1. Fleksibel, artinya luwes, tidak kaku harus mau menerima ide orang lain.
2. Tidak konvensional, artinya tidak lugu / apa adanya.
3. Eksentrik (aneh), artinya mempunyai pola pikir yang berbeda dengan orang lain.
4. Bersemangat, artinya mempunyai antusias yang tinggi
5. Berpusat pada diri sendiri
6. Berdedikasi, artinya memiliki keteguhan yang tinggi
7. Intelegen, artinya memiliki pemilihan yang tinggi
C. Sifat Berfikir Kreatif
Berdasarkan analisis faktor, Builford menemukan lima sifat yang menjadi kemampuan berfikir kreatif:
1. Fluency (kelancaran)
Kemampuan untuk menghasilkan gagasan
2. Flexibilty (keluwesan)
Kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan
3. Originality (Keaslian)
Kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise
4. Elaboration (Perumusan Kembali)
Kemampuan untuk menguraikan kemampuan secara terinci
5. Redefinition (Perumusan Kembali)
Kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang.
D. Tahap-tahap Berfikir Kreatif
Dalam berfikir kreatif, terdapat tahap-tahap yang dilalui, mulai dari persiapan sampai dengan di peroleh hasil pemikiran. Menurut Rowlinson, berfikir kreatif melewati tahapan sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Tahap untuk memperoleh fakta tentang persoalan yang akan dipecahkan.
2. Tahap Usaha
Tahap dimana individu menerapkan cara berfikir divergen(menyebar). Pada tahap ini, diperlukan usaha yang sadar untuk memisahkan produksi ide dengan menunda lebih dahulu adanya penilaian terhadap ide-ide yang muncul
3. Tahap Inkubasi
Tahap dimana individu seakan-akan meninggalkan (melepaskan diri) dari persoalan dan memasukannya kedalam bawah sadar (mengeraminya), sedangkan kesadarannya memikirkan hal-hal yang lain.
4. Tahap Pengertian
Tahap diperolehnya insight atau yang bisa disebut aba crlibnis. Ciri khas pada tahap ini adalah adanya surat penerangan (iluminasi) yang mendadak menyadarkan orang akan ditemukanya jawaban.



5. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini ide-ide yang dihasilkan diperiksa dengan teliti serta dengan kritis memisahkan ide-ide yang kurang berguna, tidak sesuai ataupun yang terlalu mahal biayanya bila dilaksanakan.
E. Identifikasi Kreatifitas
Berdasarkan penelitian, kreatifitas dapat diidentifikasikan menjadi tiga tipe:
1. Menciptakan
Proses membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada
2. Memodifikasi
Mencari cara untuk membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu yang berbeda.
3. Mengkombinasikan
Menggabungkan dua hal atau lebih yang sebelumnya tidak saling berhubungan.

Orang yang kreatif tidak takut dengan sempitnya lapangan kerja, karena orang yang kreatif dapat menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Oleh : Annisa Imathoh

Jumat, Juni 12, 2009

MEMAHAMI POTENSI DIRI

Potensi adalah kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal. Dengan potensi yang kita miliki kita dapat melakukan suatu hal yang sesuai dengan kemampuan minat bakat dan mungkin hobi kita. Dan dengan potensi yang kita miliki kita dapat memanfaatkan potensi kita ini sebagai sumber penghasilan bagi kita.namun untuk ini kita harus memahami potensi yang kita miliki.untuk dapat memehami potensi diri kita dapat melakukan beberapa cara yaitu :
1. Memahami Diri Sendiri
Dengan kita memehami diri kita sendiri kita dapat lakukan dengan cara mengenali terlebih dahulu antara kelabihan dan kekurangan yang ada pada diri kita.selain itu kita juga mencari kelemahan apa saja yang ada pada diri.
2. Menentukan Tujuan Hidup
Dengan kita punya tujuan hidup yang jelas kita dapat mengoptimalkan potensi yang kita miliki. Dan kita lebih termotifasi untuk lebih maju lagi.
3. Percaya Diri
Dengan kepercayaan diri kita dapat melakukan suatu pekerjaan dengan optimal. dan dengan sikap percaya diri potensi diri kita akan lebih tergali.
4. Menghilangkan pikiran negatif
Menghilangkan pikiran –pikiran negatif perlu sekali kita lakukan karena pikiran pikiran negatif tersebut biasanya akan menghambat kita untuk mencapai tujuan atau cita – cita kita.dan setiap kita mengalami suatu kegagalan atau hambatan maka kita harus dapat berfikir secara dewasa.dengan suatu kegagalan kita akan dapat berfikir dan bertindak lebih hati- hati.kegtagalan itu biasanya terjadi karena pikiran negatif kita.
5. Tidak cepat merasa puas
Dengan tidak cepat puas diri dapat menjadikan kita peka akan masukkan dari orang lain yang bisa membuat karya kita jauh lebih baik lagi. sesuatu hal yang ingin kita lakukan itu baiknya disertai dengan kemauan yang keras dan berfikir positif bahwa pekerjaan itu dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita dan apabila kita cepat ,merasa puas kita akan hanya terhenti didalam titikitu saja kita tidak akan menjadi lebih maju lagi.

Daftar pustaka :
Wiyono, hadi dan isworo. 2007. Kewarganegaraan. Jakarta : ganeca Exact
Kartono, kartini . 1991. Menyiapkan dan memandu karier. Jakarta : CV Rajawali

DANANG APRIADI (06104244027)